Rezeki Tak Terkira

REZEKI TAK TERKIRA
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

“Bagaimana ketentuan mencari nafkah yang yang sesuai Syara’?”

Sholih(in+at) yang disayang Allah..

Coba saya kutip Alquran Surat Al Baqarah: 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Juga ada di Alquran Surat Ath Thalaaq: 2-3: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Ayat tersebut saya cantumkan berurutan. Ayat pertama menyatakan bahwa menafkahkan Amwal (uang dan/atau harta benda) di jalan Allah diibaratkan bernilai 700 pahala. Ayat itu SUDAH mengibaratkan berarti bukan lagi dijanjikan, DAN JUGA karena permisalan itu dilanjuntkan dengan kata yunfiquuna yang merupakan fi’il mudhari’ yang menunjukkan aktivitas yang berarti otomatis SEDANG DAN AKAN (terus) terjadi. | Ayat tersebut tidak menyampaikan logika “JIKA MAKA” (Jika A maka B), bukan begitu. Tetapi ayat tersebut menyatakan bahwa melakukan A itu ibarat SEDANG dan akan (terus) mendapatkan B. Jadi bukan lagi JANJI, tapi langsung bukti, langsung dibalas. Tinggal terserah kita mau percaya apa tidak.

Apa definisi menafkahkan harta di jalan Allah itu? | Kutipan ayat berikutnya adalah siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka ia dalam kondisi sedang dan akan diberi jalan keluar. Perhatikan bentuk kata kerjanya juga pake fi’il mudhari’ yang bermakna SEDANG terjadi dan JUGA yang AKAN (terus) terjadi. Jadi, ketika kita bertakwa, maka di saat itulah jalan keluar ATAS APAPUN permasalahan yang kita hadapi SUDAH SEDANG dan AKAN (terus) diberikan oleh Allah. Dan di saat yang bersamaan (saatbertakwa) tadi, Allah juga SEDANG dan AKAN (terus) memberikan REZEKI TIDAK TERDUGA, tiada terkira. Allah juga bilang bahwa siapa saja yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan MENCUKUPKAN (keperluan)-nya.

Jadi, jalan Allah yang DIKAITKAN LANGSUNG dengan rezeki adalah ketika kita menafkahkan harta dalam dan dengan TAKWA dan TAWAKKAL. | Takwa adalah menjalankan PERINTAH dan menjauhi LARANGAN. Ciri-ciri orang bertakwa, ya ketika orang itu tidak ngeyel, tunduk, patuh, ikut apa saja yang menjadi ketentuan Allah. Sementara tawakkal (PASRAH TOTAL) didahului dengan ikhtiar alias usaha keras kerja terbaik dengan cara yang juga baik.

“Jika usaha keras itu sudah dilakukan, berdoa sekuat hati, maka selanjutnya menyerahkan hasilnya kepada Allah. Pasrah Total. Tidak boleh setengah-setengah. Allah Maha Ngerti atas apa-apa yang enggak kita ngertiin. Ini kata Alquran.” | ILBS Quotes.

Inilah RUMUS UTAMA cara menghadirkan rezeki (fisik maupun non fisik, material maupun spiritual) yang udah digariskan secara sangat LUGAS dalam kitab suci Alquran. | Seakan tidak logis, tapi boleh saja tidak percaya BAHWA ketika kita diminta selalu di jalan Allah, takwa, tawakkal, maka ALLAH PASTI SEDANG dan AKAN (terus) memberikan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi, Allah kasih rezeki tiada terduga dan terpenuhi kebutuhan hidup. Jika hal ini sudah kita jalankan dan kita peroleh, adakah lagi alasan kita untuk tidak happy? Dan sudahkah hal ini kita IMAN-i dan kita praktikkan?

Saya menduga ayat-ayat ini juga menginspirasi Umar Ibn Abdul Aziz ketika mengatur tata kelola diri, keluarga, masyarakat, Negara dan pemerintahan di zamannya, sehingga masyarakat benar-benar terbukti sejahtera tanpa menyengsarakan orang lain. Sebuah kondisi yang membuktikan gagalnya teori Ekonomi Konvensional: Pareto Optimum.

Perhatikan di dunia kekinian, kita sering mendengar kisah seseorang yang SUKSES karena ternyata dia tidak meninggalkan sholat jamaah di masijd. Atau kita ketemu seseorang yang sukses karena ternyata ia hoby sedekah, hoby-nya memberi. Atau kita ketemu seseorang yang sukses karena ternyata dia udah tidak lagi hoby maksiat.

Pun perhatikan di dunia kekinian, sangat sering juga kita temui orang yang tidak beriman, hoby maksiat, namun ternyata rezekinya banyak? | Allah Maha Rahman dan Rahim. Allah Maha Pengasih. Siapa juga kalau Allah mau memberi ya itu urusan Allah. Biarin aja. Yang penting kita taat aja kepada Allah. Yang diridhai Allah adalah yang beriman. Kaya raya tidak beriman ya tidak diridhai.

Dan juga perhatikan di dunia kekinian, adakah PERUSAHAAN dan/atau Lembaga Bisnis, Keuangan, dan Perbankan Syariah yang mengalokasikan SEBAGIAN BESAR LABA-nya untuk berinfak ke jalan Allah? Percayakah Perusahaan ini dengan matematika Alquran tersebut bahwa infak 1 dibales 700 kontan? Jika percaya harusnya berbagai perusahaan akan berlomba-lomba menyalurkan sebagian besar labanya untuk infak dan program kebajikan lainnya. | Tentu yang saya bahas di sini porsi laba ya. Kalau pendapatan yang digunakan untuk menutup biaya operasional memang wajar dialokasikan untuk kebutuhan pokok demi berlangsungnya perusahaan.

Itulah rumus rezeki tak terkira. | Akhirnya, kita pun bisa terapkan ke diri sendiri. Ketika rezeki seret, silahkan periksa diri ini, mungkin karena ibadah belum benar, maksiat masih banyak, belum sepenuh takwa dan tawakkal kepada Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s