Tangan Di Atas VS Tangan Di Bawah

TANGAN DI ATAS VS TANGAN DI BAWAH
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

“Benarkah bahwa Tangan Di Atas itu lebih mulia dibandingkan dengan Tangan Di Bawah? Benarkah pemilik bisnis lebih mulia dibandingkan dengan karyawan? Gimana penjelasannya?”

Sholih(in+at) yang disayang Allah..

Ini masih tentang ma’iisyah, nafkah dan rezeki. Mari kita cermati Hadis yang rasanya fenomenal juga terkait hal itu. Dari Hakîm bin Hizâm radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: tangan yang di atas LEBIH BAIK daripada
tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barang siapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barang siapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.

Perhatikan Hadis tersebut. Ada beberapa poin yang disampaikan: (1) Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. (2) Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. (3) Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. (4) Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya. (5) barangsiapa yang merasa cukup alias kaya maka Allâh akan memberikan kecukupan (kekayaan) kepadanya.

PERTAMA, tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. | Artinya, Tangan Di Atas adalah orang yang bermental memberi. Tangan Di Bawah adalah orang yang bermental menerima. Berarti orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Berarti orang yang menerima tidak lebih baik daripada orang yang memberi. Tangan Di Atas adalah MENTAL orang yang BERDAYA. Tangan Di Bawah adalah MENTAL orang yang TIDAK BERDAYA.

Apakah berarti kita tidak boleh menerima sesuatu pemberian orang lain? | Jika kita menerima pemberian dari orang lain berupa hadiah atau pemberian alias hibah atau apapun yang tidak kita sangka dan tidak kita inginkan, ya terima saja. Ini sah. Ini boleh. Tentu harus disesuaikan dengan kondisi lain yang memungkinkan terjadinya conflict of interest.

Nah, bagaimana cara kita menyikapi orang yang mengemis, meminta-minta? | Jika kita tidak tahu uang yang diminta tadi untuk apa, dibelanjakan untuk apa, ya kalau kita punya uang, kasih aja. Kecuali jika KITA SUDAH TAHU PASTI uang itu nanti dibelanjakan untuk hal maksiat dan menzhalimi orang lain, ya tidak usah kasih.

KEDUA, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. | Artinya jika mau bersedekah (memberi), lihat dulu dirimu, keluargamu, orang-orang yang wajib engkau nafkahi, seperti istri, anak, orang tua dan keluarga. Baru setelah itu sedekah dan atau memberikan sesuatu untuk orang lain.

KETIGA, dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. | Apa artinya? Artinya adalah sedekah yang diberikan kepada sanak saudara, fakir, miskin dan orang-orang yang membutuhkan adalah sedekah yang merupakan kelebihan harta setelah kita memberikan nafkah wajib.

KEEMPAT, barang siapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya. | Jika kita menjaga kehormatan diri, maka Allah akan menjaga kehormatan kita. Kalau kita menjaga kemuliaan diri, Allah juga akan memuliakan kita. Caranya bisa dilakukan dengan: (1) melepaskan ketergantungan diri dari makhluk alias dari orang lain terutama dalam dalam mencari nafkah (dalam definisi bukan MENTAL meminta-minta), harus bisa mandiri dan berdaya, dan (2) kita harus merasa cukup atas apa yang ada (qana’ah). Orang yang paling kaya adalah orang yang merasa cukup atas apa yang ada.

KELIMA, barang siapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya. | Artinya jika kita sudah bisa merasa cukup atas apa yang ada, bisa bersabar dan bersyukur atas apapun yang diberikan Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhan kita yakni kebutuhan yang memang kita butuhkan, bukan kebutuhan yang kita inginkan sebagai kebutuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s