Kemajuan LKS dan Gap Kompetensi

KEMAJUAN LKS DAN GAP KOMPETENSI
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

LKS maju tersebab banyak hal. Salah satu karena SDM-nya. Lengkap dengan Kompetensinya.

Seorang dosen nanya ke saya bulan lalu, “mas Ifham, industri perbankan syariah melambat, mahasiswa peminat jurusan perbankan syariah makin meningkat. STEI-STES baru jurusan perbankan syariah makin menjamur, gimana ini mas? Khawatir ada kesenjangan percepatan pertumbuhan. Pertumbuhan jumlah SDM yang tersedia jauh lebih cepat dibanding tumbuh kembang industri.”

Saya timpali, pengalaman saya jadi HRD di Bank Syariah dan urus rekrutmen dan asesmen sejak 2003, tidak pernah ada cerita Bank Syariah bikin rekrutmen massal trus sengaja bikin pengumuman khusus dari Jurusan Perbankan Syariah. Kecuali kebutuhan misalnya 1-3 orang aja di posisi tertentu misalnya. Atau kecuali BPRS. | Makin kagetlah beliau. Padahal gejala ini udah ada seumur Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah ada.

Beberapa kali saya sampaikan di berbagai kampus bahwa ada gap signifikan antara akademisi dan praktisi. Gap dari sisi kompetensi dan kamus kompetensi. | Jika di akademik ada 9 level maka di praktisi yang mengakomodir konsultan HAI, ada 5 level. Dan jika mau masuk ke praktisi maka level 9 pun harus tes dan belum tentu lulus level terbawah versi praktisi.

Dan industri sangat sah untuk belagu gak menyesuaikan diri dengan kompetensi ala akademik. | Kompetensi akademisi yang harus sesuaikan diri dengan kompetensi praktisi. Dan sepemahaman saya selama jadi praktisi, belum ada ketidakakuratan tata kompetensi di sisi industri. Terutama kompetensi jabatan yang biasa dimasuki para fresh graduate.

Sangat serem ketika saya keliling di kampus kampus suka iseng nanya.. dulu mau masuk ke jurusan perbankan syariah kenapa? | Belum lagi keluhan para mahasiswa ke saya via grup Everyday Muamalah 1-22 yang tertemukan banyak cerita akademisi banyak yang malah sering ngajar di kelas menyamakan dengan keuangan konvensional.

Singkat cerita, selain isu bahwa LKS bisa maju karena SDM-nya (sebagai salah satu faktor penting), namun fakta membuktikan bahwa ada yang tidak sinkron dan seakan terbiarkan berlarut antara industri dengan kampus yang menyiapkan SDM “spesifik” buat industri.

Saya pernah menawarkan diri membuat konsep sinkronisasi atas gap kompetensi antara akademisi dan praktisi. Gak mempan. Mungkin nanti via IAEI.

Bagaimanapun sedikit banyak saya pernah ngalamin dengan jadi PM implementasi HRIS berbasis Kompetensi di sebuah Bank Syariah terbaik. Semoga manfaat.

Pernah juga di bagian rekrutmen. Buka lowongan ODP online seminggu pendaftar 13.000 lebih. Dan kami harus delete tinggal 700. Karena ODP maka prioritas utama bukanlah kampus STEI STEI.

Dan yang serupa pun sekarang terjadi dan terus terjadi. | Menyedihkan aja bayangin harapan kampus kampus STEI dengan kenyataan di lapangan yang gak cocok.

Yang padahal jika bisa dicocokkan dan harusnya bisa, maka bisa potensi besar meningkatkan kualitas SDM dan kualitas LKS itu tadi.  #curcolpagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s