Nilai Lebih Bisnis Syariah

NILAI LEBIH BISNIS SYARIAH
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

PERTANYAAN: “Assalamualaikum pak Ifham. Permisi, saya mau tanya.. Menurut pak Ifham apa sih kelebihan dari akad mudharabah di lembaga keuangan itu? Bukankah yang ada sekarang itu justru lebih banyak kelemahannya? Dan kira-kira bagaimana perkiraan perkembangan akad mudharabah di lembaga keuangan mendatang? Kalau ada referensi buku/jurnalnya boleh dicantumkan nggak pak, biar saya juga baca baca dari bukunya langsung. Syukron..”

JAWAB. Shalih(in/at) rahimakumuLlah..

Yang nanya begini biasanya DOSEN. Saya jawab dulu yang referensi. Karena nanya ke saya ya silahkan bisa baca buku-buku saya:

INI LHO BANK SYARIAH (Gramedia Pustaka Utama – 2015) oleh: Ahmad Ifham | Halaman: 415 + viii hlmn. | Bagian: (1). Bagi Hasil. (2). Tentang Pembiayaan Investasi. (3). Cara Mengajukan Pembiayaan Investasi. (4). Cara Mengajukan Pembiayaan Modal Kerja. (5). FAQ di bagian akhir buku.

Dan/atau: BUKU PINTAR EKONOMI SYARIAH (Gramedia Pustaka Utama – 2010) oleh: Ahmad Ifham Sholihin. | Halaman: 947 + viii halaman. | Bagian: (1). Mudharabah. (2). Pembiayaan Mudharabah, (3). Akuntansi Mudharabah, (4). Pembiayaan Bermasalah – Mudharabah. (5). Restrukturisasi Pembiayaan Bermasalah – Mudharabah. (6). Risiko Pembiayaan, (7). Risiko Berbasis NUC. Silahkan dicari aja. Buku itu berupa kamus tebel. Di toko mungkin udah langka. Buku lama.

Ada buku saya tahun 2010: PEDOMAN UMUM LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH (Gramedia Pustaka Utama – 2010) oleh: Ahmad Ifham Sholihin | Halaman: 495 + x halaman | Bagian: (1). Fatwa Mudharabah, (2). Kodifikasi Produk Bank Syariah. (3). UU No.21 tahun 2008 tentang Bank Syariah. Dan masih banyak lagi rujukan lain. Silahkan dicari yak..

NILAI LEBIH BISNIS SYARIAH

Bisnis akan dikatakan sesuai Syariah adalah jika dan hanya jika ada Jual Beli. Kalaupun pake skema Bagi Hasil, maka akan ada hasil yang bisa dibagi, jika dan hanya jika udah dilakukan Jual Beli. | Jual Beli mah gitu dianya. #‎eh

Apa itu Mudharabah? | Mudharabah itu Investasi. Mudharabah itu bagian dari syirkah (bersekutu). Syirkah Mudharabah adalah persekutuan bisnis yang mana modal hanya dari satu pihak. Satu pihak lagi jadi pengusaha.

Perhatikan risiko mudharabah. Jika ada hasil ya bagilah sesuai nisbah (porsi) yang disepakati di depan. Jika rugi ya yang nanggung risiko sesuai porsi modal (modal 100% kan dari satu pihak), maka kerugian ditanggung oleh pemilik modal, tentu jika pengusaha gak lalai.

Contoh skema Mudharabah bisa kita temui di lembaga keuangan syariah. Misalnya: Badrol punya duit 1 Milyar. Badrol investasi ke Bank Syariah. Badrol sebagai pemilik dana. Bank Syariah adalah pengusaha. Nanti kita cermati skemanya. | Klo pertanyaannya adakah kekurangan dan atau apakah kelebihan mudharabah di Lembaga Keuangan Syariah? Nanti kita bisa simpulin setelah kita cermati rinci prakteknya.

Oiya ini nanti skema yang dibahas ya akan sama dengan skema transaksi MUDHARABAH di SEKTOR RIIL. Silahkan dicermati aja.

MUDHARABAH IDEAL

Mudharabah ideal adalah Profit/Loss Sharing. Yakni ketika udah siap bagi untung dan bagi rugi. Mudharabah saat ini belum ideal. Masih Revenue Sharing. Bagi pendapatan. Belum dikurangi biaya biaya sehingga ketemu nett profit. Ini teori dan prakteknya begini. Bank Syariah kan masih baik hati meskipun jadinya Nasabah manja.

Oke. Perhatikan Mudharabah ideal dengan skema Profit/Loss Sharing (PLS): Posisi si Badrol tadi adalah pemilik modal alias shahibul mal. Badrol buka deposito mudharabah sebesar 1 Milyar pada Januari 2013. BILANGNYA SIIIIH Badrol siap duitnya diambil berjangka waktu setahun. Lah mudharabah kan gak boleh sewaktu-waktu diambil. Badrol siap PLS. Badrol siap untung. Badrol siap rugi.

Bisnis dijalankan. Pelaku bisnis adalah Bank Syariah. | Data Desember 2014 ada Bank Syariah besar yang labanya turun drastis 88%. Beberapa Bank Syariah besar, labanya turun 80%. Secara Nasional turun 69%.

Katakanlah Badrol nasabah Bank Syariah XXX yang laba di akhir 2013 adalah 629 Milyar dan laba di akhir 2014 adalah 75 Milyar. Contoh angka ini kayaknya nyata deh.. Tapi jangan dicari ini Bank Syariah mana. | Perhatikan Badrol di Desember 2013. Dana Badrol 1 Milyar katakanlah Nisbahnya 60:40. Eeeh ternyata Badrol dapet hasilnya 70juta. Jadi Dana Badrol di Januari 2014 adalah 1 Milyar 70juta. Angka 70juta ini saya gak mengada-ada ya. Coba dilogika pake logika bank masa kini. Klo di Bank Syariah laen sih mungkin aja hasil Badrol tadi 60-110juta. Setahun. Bagi Hasilnya aja. Kira kira jadinya segitu. Cek di BPRS.

Perhatikan. Dana Badrol tadi 1 Milyar di Januari 2013. Mudharabah di Bank Syariah XXX dengan laba 629 Milyar, maka Dana Badrol di Januari 2014 menjadi 1 Milyar + 70juta. Perhatikan laba Bank Syariah tersebut. | Jika Dana Badrol yang POKOK tadi 1 Milyar, Laba Bank Syariah 629 Milyar, Badrol dikasih 70juta. Logikanya nih ya logikanya dengan POKOK yang sama, Laba Bank Syariah 75 Milyar, sehingga ada PENURUNAN 88%, maka MUNGKINKAH Badrol juga nih dapet Bagi Hasilnya TURUN 88% juga menjadi 8,3juta?

Pada kenyataan di lapangan, apakah Dana Badrol yang Depisito 1 Milyar tadi selama setahun hasilnya DINYATAKAN (diposting) hanya 8,3juta. Klo Nasabah nya gak Syariah banget mah udah kabur tuh. Mending pake skema Bunga. Bank mau untung berapapun kek, mau rugi berapapun kek, Nasabah dapet Bung Fixed 70juta.

Ini masih pake logika Revenue Sharing. Makanya meski terbukti laba turun 88%, palingan Bagi Hasil diturunin di angka 55juta. Wowww memanjakan Nasabah INVESTOR kan. | Nahhh perhatikan jika pengen MUDHARABAH MURNI berbasis Profit/Loss Sharing.

Mungkin gak, pengusaha rugi? | Mungkin.

Karena rugi, mungkin gak Bank Syariah XXX tadi gak bisa balikin 1 Milyar-nya Badrol dalam jangka waktu yang ditentukan? | Sangat mungkin.

Jika bisnis gagal, mungkin gak duit Badrol abis? | Mungkin.

Itu tadi pertanyaannya adalah MUNGKIN. Sekarang kita ganti dengan MAU.

Jika Bank Syariah-nya rugi, MAU gak si Badrol ikutan rugi? | Belum tentu Badrol mau rugi.

Jika Bank Syariah rugi atau laba anjlog drastis 88%, secara Revenue Sharing (dan ini udah terbukti), MAU gak duit Badrol yang 1 Milyar tadi CUMA dikasih 8,3juta sesuai penurunan tingkat laba? | Badrol MUNGKIN mau jika dia Sharia Loyalist. Ternyata “99%” masyarakat Indonesia ini non Sharia Loyalist. Rasanya yakin deh gak mau. Klo terpaksa mau ya Badrol bakalan kapok deh ke Bank Syariah.

Jika Bank Syariah Rugi, secara Profit Sharing, MAU gak Badrol nih duitnya bener bener gak dibalikin sampai nanti untung lagi? | Rasanya gak mau. Lah buka Deposito aja dikasih fasilitas break. Bisa diambil sewaktu waktu. Padahal dalam Profit/Loss Sharing gak boleh begitu.

Jika Bank syariah labanya anjlog 88%, MAU gak Bank Syariah ngasih laba cuma 8,3juta? | Gak mau. Bisa kabur ntar Nasabah Investor. Likuiditas bisa kacau jika yang kabur banyak dalam waktu bersamaan.

Pertanyaan berikutnya: jika Bank Syariah rugi dedel duel kena krisis ekonomi, MAU gak si Badrol duit 1 Milyar-nya abis? | Tipe Sharia Loyalist pun akan mikir.

Dalam bisnis, mungkin gak siiih semilyar itu abisss? | Sangat mungkin. Apalagi jika pake PLS trus kita hanya punya saldo 1juta. HARUS SIAP KEHILANGAN DUIT KITA.

Dan rumus Mudharabah di Lembaga Keuangan Syariah kan: Jika kita nabung atau tempatkan deposito dan SIAP DUIT ABIS dalam rangka bisnis riil, siap abis jika Bank Syariah, terapkan Profit/Loss Sharing, MAKA di saat itulah Mudharabah MULAI tegak. Jika kita nabung pake skema Mudharabah kok gak siap rugi dan gak siap duit kita abis, inilah sikap mental pemelihara Riba. | Eh ngomong-ngomong, saya pernah bilang begini pas seminar. Kayaknya sih yang dengerin kaget.

Jika kita nih si investor siap Profit/Loss Sharing, saya kok yakin Bank Syariah siap PLS juga dengan Nasabah PEMBIAYAAN. | OIYA tetap PERHATIKAN ya bahwa LEBIH BAIK ke Bank Syariah meski belum sempurna, daripada ke Bank Murni Riba yang sudah pasti SEMPURNA RIBANYA. Jangan khawatir, dana Anda di Bank Syariah aman, ada LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Oiya, tadi kenapa skema Mudharabah kok bahas Tabungan, Giro, Deposito? | Ya logikanya nih ya. Sumber duit Bank Syariah itu dari kita. Kita yang ngasih Pembiayaan Mudharabah ke Bank Syariah dalam bentuk Tabungan, Giro, Deposito. Alur duit bermula dari kita. Eeeh kitanya gak siap PLS. Klo kita sebagai pemberi Pembiayaan Mudharabah gak siap PLS, lah gimana Bank Syariah mau siap PLS dengan Nasabah Pembiayaan?

KELEMAHAN MUDHARABAH

Jadiiiii kelemahan skema Mudharabah di Lembaga Keuangan Syariah seperti Bank Syariah ya karena SIKAP MENTAL MASYARAKAT yang gak mau PLS. Kemauan ini harus dimulai dulu dari pemilik Tabungan, Giro, Deposito. | Jika kita pemilik Dana Pihak Ketiga (DPK) ini siap PLS, tapi kok Bank Syariah-nya gak siap, mari KITA SALAH-SALAHIN tuh Bank Syariahnya.

Kekurangan SELANJUTNYA selain karena faktor KITA (pemilik DPK) yang emang belum bermental bisnis, ya bisa disimpulin sendiri ya dari tulisan di atas:

  1. Yakni ketika praktisi, akademisi gak aware dan mengakui bahwa Bank Syariah masih jauh dari sempurna.
  2. Praktisi gak ngerti kondisi ideal yang dituju.
  3. Persoalan Integritas dan GCG alias Good Corporate Governance.
  4. SDM gak kompeten dan gagal paham logika bisnis (berbasis PLS).
  5. Marketing jika ada yang ngajarin untuk menyamakan dengan skema Bank Murni Riba.
  6. Masih Revenue Sharing.
  7. Masih ada break sumber dana.
  8. Laporan keuangan yang belum tentu rapi di sisi Nasabah Pembiayaan.
  9. Side streaming.
  10. Marketing yang ngegampangin proses. Kadang ada oknum yang mikirnya yaaa hasilnya samain aja deh dengan proyeksi. Atau maen nata sama Nasabah misal Nasabah untung lebih bayarnya gak lebih tapi ntar klo rugi tetep bayar sesuai proyeksi. Dan lain lain.

KELEBIHAN MUDHARABAH

  1. Lembaga Keuangan Syariah berani pake skema Bagi Hasil. Sampe ke Jurnal Akuntansi, IT dan lain lain, MESKIPUN pake Revenue Sharing.
  2. Siap risiko maintain Nasabah. Meskipun belum siap nyediain Pegawai khusus untuk maintain pengelolaan bisnisnya Nasabah.
  3. Jika diterapkan dengan murni PLS maka akan sangat signifikan positif dampaknya terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi dan bisa tahan terhadap krisis.
  4. Sudah berproses. Tentu lebih logis dibandingkan dengan Bank Murni Riba.

PERKEMBANGAN MUDHARABAH KE DEPAN

Mudharabah ke DEPAN mau selurus apa ya tergantung dari SIKAP MENTAL KITA, tergantung dari IDEOLOGI SIKAP OTAK kita terutama jika dikaitkan dengan Lembaga Keuangan Syariah. Aku pinjem bahasanya Ahmad Dhani tuh. | Nah, jika kita udah merevolusi mental kita dalam BISNIS bahwa Bisnis di LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH itu harus siap RUGI, INVESTASI (mudharabah) itu harus juga siap rugi, yakin deh Lembaga Keuangan Syariah akan makin mudah untuk siap Profit/Loss Sharing.

Ketika saat ini Pembiayaan di Bank Syariah masih dominan Murabahah alias Jual Beli di angka 58%-60% ya berarti masyarakat kita masih berisiko tinggi, masih belum siap bermental pebisnis. Jika masyarakat kita udah bermental logis dalam berbisnis, harusnya dateng ke Bank Syariah itu ngajuin pembiayaannya sisi Modal Kerja atau Investasi. Dan ketika kita masyarakat nih udah berintegritas tinggi, jujur, amanah, jamaah, maka Lembaga Keuangan Syariah makin terbantu terapkan praktek Mudharabah yang ideal.

Perhatikan juga jika kita juga udah bener dalam bersikap mental terhadap INVESTASI, siap untung, siap rugi, siap logis, siap bernalar, siap risiko bisnis, insyaAllah nanti gak muncul lagi berita tentang INVESTASI BODONG. | PERHATIKAN, terlepas dari APAPUN kelebihan dan kelemahan Mudharabah di BANK SYARIAH, PASTI sudah lebih Logis dibandingkan dengan Bank Murni Riba (Bank Murni Riba).  AKHIRNYA | Ayo ke Bank Syariah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s