Semua Boleh Kecuali Yang Dilarang

SEMUA BOLEH, KECUALI YANG DILARANG
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Sholih(in+at) yang disayang Allah..

Dalam ibadah, kaidah hukum yang berlaku adalah bahwa semua hal dilarang, kecuali yang ada ketentuannya berdasarkan Aluran Hadis. Sedangkan kaidah DALAM URUSAN MUAMALAH (seperti dalam praktik Ekonomi, Bisnis dan Keuangan Syariah): semuanya diperbolehkan, kecuali ada dalil yang melarangnya. | Ini berarti ketika suatu transaksi baru muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam hukum Islam, maka transaksi tersebut dianggap dapat diterima, kecuali terdapat implikasi dari dalil Alquran dan Hadis yang melarangnya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Kalau saya cerewet dengan praktik BISNIS, Ekonomi dan Keuangan Syariah yang ada, itu karena JIKA saya melihat bahwa praktik yang ada masih sesuai dengan apa yang dilarang. | Syariah di sisi Muamalah itu sejatinya mudah dan sederhana, sehingga bisa dipahami oleh orang awam sekalipun.

“Hadis bilang bahwa kriteria halal itu jelas, kriteria haram itu jelas, dan di antara keduanya ada syubhat (meragukan). | Dan selanjutnya, judgement hukumnya akan ada sebanyak nyawa tergantung kondisi dharuriyat, hajiyat, tahsiniyat.” | ILBS Quotes.

Berdasarkan buku-buku yang saya pelajari, saya coba merangkum apa yang dikatakan orang-orang terdahulu mengenai hal ini. | Ada 3 faktor yang menyebabkan suatu transaksi itu dilarang (hukumnya haram), yaitu: (1) Haram zatnya (haram li-dzatihi); (2) Haram selain zatnya (haram li ghairi dzatihi); dan (3) Cacat, tidak sah/tidak lengkap akadnya.

Haram Zatnya

Transaksi ini dilarang karena obyek (barang dan/atau jasa) yang ditransaksikan juga dilarang. Misalkan minuman keras, daging babi, binatang yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah (bangkai) –kecuali bangkai ikan dan belalang. Jadi transaksi jual-beli zat-zat tersebut adalah haram (dilarang), walaupun akad jual-belinya sah. | Bila ada nasabah yang mengajukan pembiayaan pembelian minuman keras kepada bank dengan menggunakan akad murabahah, maka walaupun akadnya sah tetapi transaksi ini haram karena obyek transaksinya adalah haram.

Haram Selain Zatnya

#1 Tadlis | Setiap transaksi dalam Islam harus didasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua belah pihak (sama-sama rida). Mereka harus mempunyai informasi yang sama (complete information) sehingga tidak ada pihak yang merasa dicurangi/ditipu karena ada suatu yang unknown to one party (keadaan di mana salah satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui pihak lain, ini disebut juga assymetric information). Unknown to one party dalam bahasa fikihnya disebut tadlis. | Keadaan sama-sama rela harus bersifat jangka panjang, tidak sementara, yakni sementara pihak yang ditipu tidak mengetahui bahwa dirinya ditipu, dicurangi, dizhalimi. Jika di kemudian hari pihak yang ditipu tahu bahwa dirinya ditipu, maka sejatinya ia tidak merasa rela. Transaksi ini tidak dibenarkan.

#2 Taghrir (Gharar) | Gharar atau disebut juga taghrir adalah situasi di mana terjadi incomplete information karena adanya uncertainty to both parties (ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi). | Dalam tadlis, yang terjadi adalah pihak A tidak mengetahui apa yang diketahui pihak B (unknown to one party). Sedangkan dalam taghrir, baik pihak A maupun pihak B sama-sama tidak memiliki kepastian mengenai sesuatu yang ditransaksikan (uncertain to both parties). Gharar ini terjadi bila kita merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti (certain) menjadi tidak pasti (uncertain) dan SUDAH DIPASTIKAN.

#3 Rekayasa Pasar dalam Supply (Ihtikar). | Rekayasa pasar dalam supply (ihtikar) terjadi bila seorang produsen/penjual mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara mengurangi supply agar harga produk yang dijualnya naik. Ihtikar biasanya dilakukan dengan membuat entry barrier, yakni menghambat produsen/penjual lain masuk ke pasar, agar ia menjadi pemain tunggal di pasar (monopoli). Karena itu, biasanya orang menyamakan ihtikar dengan monopoli dan penimbunan, padahal tidak selalu seorang monopolis melakukan ihtikar. | Demikian pula tidak setiap penimbunan adalah ihtikar. BULOG juga melakukan penimbunan, tetapi justru untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan. Demikian pula dengan negara apabila memonopoli sektor industri yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak, bukan dikategorikan sebagai ihtikar.

Ihtikar terjadi bila syarat-syarat ini terpenuhi: (a) Mengupayakan adanya kelangkaan barang baik dengan cara menimbun stock atau mengenakan entry-barriers; (b) menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga sebelum munculnya kelangkaan; (c) mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan sebelum komponen a & b dilakukan.

#4 Rekayasa Pasar dalam Demand (Bai’ Najasy). | Rekayasa pasar dalam demand (Bai’ Najasy) terjadi bila seorang produsen/pembeli menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual produk itu akan naik. Hal ini terjadi misalnya dalam bursa saham (praktik goreng-menggoreng saham), bursa valas, dan lain-lain. | Cara yang ditempuh bisa bermacam-macam, mulai dari menyebarkan isu, melakukan order pembelian, sampai benar-benar melakukan pembelian pancingan agar tercipta sentimen pasar untuk ramai-ramai membeli saham/mata uang tertentu. Bila harga sudah naik sampai level yang diinginkan, maka yang bersangkutan akan melakukan aksi ambil untung dengan melepas kembali saham/mata uang yang sudah dibeli, sehingga ia akan mendapatkan untung besar.

#5 Riba | Riba adalah kelebihan tambahan dan/atau hasil yang diperoleh atas transaksi dengan cara zhalim (tidak sebagaimana mestinya). | Riba ini ada 2 jenis, yakni Riba Qardh (Riba atas transaksi pinjam meminjam) dan Riba Buyu’ (Riba pada Jual Beli).

Yang termasuk dalam kategori Riba Qardh adalah RIBA JAHILIYAH yakni HUTANG YANG MINTA KELEBIHAN BAYAR SELAIN POKOK PINJAMAN, termasuk minta kelebihan pengembalian karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan (MISALNYA TIDAK MAMPU BAYAR TUNAI). Riba Jahiliyah dilarang karena terjadi pelanggaran kaedah “Kullu Qardhin Jarra Manfa’atan fahuwa Riba” (setiap pinjaman yang mengambil manfaat adalah riba).

Memberi pinjaman adalah transaksi kebaikan (tabarru’), sedangkan meminta kompensasi adalah transaksi bisnis (tijarah). Jadi, transaksi yang dari semula diniatkan sebagai transaksi kebaikan tidak boleh dirubah menjadi transaksi yang bermotif bisnis. | Dari segi penundaan waktu penyerahannya, riba jahiliyah tergolong Riba Nasi’ah; dari segi kesamaan objek yang dipertukarkan, tergolong Riba Fadl. Dalam perbankan Murni Riba, riba jahiliyah dapat ditemui dalam inginaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.

Yang termasuk dalam kategori Riba Buyu’ adalah Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah. RIBA FADHL disebut juga riba buyu’ yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang TIDAK MEMENUHI kriteria SAMA KUALITASNYA (mistlan bi mistlin), SAMA KUANTITASNYA (sawa-an bi sawa-in) dan SAMA WAKTU PENYERAHANNYA (yadan bi yadin) atau bahasa lainnya adalah CASH (tunai). Pertukaran semisal ini mengandung gharar yaitu ketidakjelasan bagi kedua pihak akan nilai masing-masing barang yang dipertukarkan. Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak, kedua pihak, dan pihak-pihak lain.

RIBA NASI’AH disebut juga riba duyun yaitu riba yang timbul akibat hutang piutang yang TIDAK MEMENUHI kriteria UNTUNG MUNCUL BERSAMA RESIKO (al ghunmu bil ghurmi) dan HASIL USAHA MUNCUL BERSAMA BIAYA (al kharaj bi dhaman). Transaksi semisal ini mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban, hanya karena berjalannya waktu.

Nasi’ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba Nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara barang yang diserahkan hari ini dengan barang yang diserahkan kemudian. | Jadi al ghunmu (untung) muncul tanpa adanya al ghurmi (resiko), hasil usaha (al kharaj) muncul tanpa adanya biaya (dhaman); al ghunmu dan al kharaj muncul hanya dengan berjalannya waktu. Padahal dalam bisnis selalu ada kemungkinan untung dan rugi.

Memastikan sesuatu yang diluar wewenang manusia adalah bentuk kezhaliman. | Padahal justru itulah yang terjadi dalam riba nasi’ah, yakni terjadi perubahan sesuatu yang seharusnya bersifat uncertain (tidak pasti) menjadi certain (pasti). Pertukaran kewajiban menanggung beban (exchange of liability) ini, dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak, kedua pihak, dan pihak-pihak lain.

Dalam perbankan Murni Riba, riba nasi’ah dapat ditemui dalam pembayaran bunga kredit, deposito, tabungan, giro, dan lain lain. Bank sebagai kreditur yang memberikan pinjaman mensyaratkan pembayaran bunga yang besarnya tetap dan ditentukan terlebih dahulu di awal transaksi (fixed and predetermined rate). | Padahal nasabah yang mendapatkan pinjaman itu TIDAK SUDAH (belum) mendapatkan keuntungan yang fixed and predetermined juga, karena dalam bisnis selalu ada kemungkinan rugi, impas atau untung, yang besarnya tidak dapat ditentukan dari awal. Jadi, mengenakan tingkat bunga untuk suatu pinjaman merupakan tindakan yang memastikan sesuatu yang tidak pasti, karena itu diharamkan.

#6 Maysir (Perjudian) dan/atau Spekulasi atau Zero Sum Game. | Secara sederhana, yang dimaksud dengan maysir atau perjudian adalah suatu permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak yang lain akibat permainan tersebut.

Setiap permainan atau pertandingan, baik yang berbentuk game of chance, game of skill ataupun natural events, harus menghindari terjadinya Zero Sum Game, yakni kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain harus menanggung beban pemain yang lain. | Dengan demikian, dalam sebuah pertandingan sepakbola misalnya, dana partisipasi yang dimintakan dari para peserta tidak boleh dialokasikan, baik sebagian ataupun seluruhnya, untuk pembelian trophy atau bonus atau badiah bagi para juara.

Untuk menghindari terjadinya maysir dalam sebuah permainan misalnya, pembelian trophy atau bonus untuk para juara jangan berasal dari dana partisipasi para pemain, melainkan dari para sponsorship yang tidak ikut bertanding. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas kemenangan pihak yang lain. Pemberian bonus atau trophy dengan cara tersebut dalam istilah fikih disebut sebagai hadiah, dan halal hukumnya.

#7 Risywah (Suap-Menyuap). | Yang dimaksud dengan perbuatan risywah adalah memberi sesuatu kepada pihak lain untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. Suatu perbuatan baru dapat dikatakan sebagai tindakan risywah (suap-menyuap) jika dilakukan kedua belah pihak secara sukarela. | Jika hanya salah satu pihak yang meminta suap dan pihak yang lain tidak rela atau dalam keadaan terpaksa atau hanya untuk memperoleh haknya, maka peristiwa tersebut bukan termasuk kategori risywah, melainkan tindak pemerasan. | Ulama ahli fikih juga menegaskan bahwa hadiah-hadiah yang diberikan kepada para pejabat adalah bentuk suap, uang haram dan penyaalahgunaan wewenang.

#8 Zhalim. | Definisi sederhana dari Zhalim adalah perbuatan tidak adil, aniaya. Silahkan perhatikan saja jika ada transaksi yang mengaku Syariah namun Anda merasa ada yang tidak adil, ada pihak yang tersakiti, ada pihak yang dirugikan, berarti ada ke-ZHALIM-an pada transaksi dan produk yang berlabel Syariah tersebut.

Cacat/Tidak Sah/Tidak Lengkap Akadnya

Suatu transaksi yang tidak masuk dalam kategori haram li dzatihi maupun haram li ghairihi, belum tentu serta merta menjadi halal. Masih ada kemungkinan transaksi tersebut menjadi haram bila akad atas transaksi itu tidak sah atau tidak lengkap. | Suatu transaksi dapat dikatakan tidak sah dan/atau tidak lengkap akadnya, bila terjadi salah satu (atau lebih) faktor-faktor berikut ini: (1) Rukun dan Syarat tidak terpenuhi; (2) Terjadi Ta’alluq; (3) Terjadi “two in one”.

#1 Rukun dan Syarat Tidak Terpenuhi. | Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dalam suatu transaksi (necessary condition), misalnya ada penjual dan pembeli. Tanpa adanya penjual dan pembeli, maka jual-beli tidak akan ada. | Pada umumnya, rukun dalam muamalah iqtishadiyah (muamalah dalam bidang ekonomi) ada 3 (tiga), yaitu: Pelaku; Objek; dan Ijab-Kabul.

Pelaku bisa berupa penjual-pembeli (dalam akad jual-beli), penyewa-pemberi sewa (dalam akad sewa-menyewa), atau penerima upah-pemberi upah (dalam akad upah-mengupah), dan lain lain. Tanpa pelaku maka tidak ada transaksi.

Objek transaksi dari semua akad di atas dapat berupa barang atau jasa. Dalam akad jual beli mobil, maka objek transaksinya adalah mobil. Dalam akad menyewa rumah, maka objek transaksinya adalah rumah, demikian seterusnya. Tanpa objek transaksi, mustahil transaksi akan tercipta.

Selanjutnya, faktor lainnya yang mutlak harus ada supaya transaksi dapat tercipta adalah adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Dalam terminologi fikih, kesepakatan bersama ini disebut ijab kabul. Tanpa ijab kabul, mustahil pula transaksi akan terjadi.

Dalam kaitannya dengan kesepakatan ini, maka akad dapat menjadi batal bila terdapat: (a) Kesalahan/kekeliruan obyek; (b) Paksaan (ikrah); (c) Penipuan (tadlis). Bila ketiga rukun tersebut terpenuhi, maka transaksi yang dilakukan sah. Namun, bila rukun di atas tidak terpenuhi (baik satu rukun atau lebih), maka transaksi menjadi batal.

Selain rukun, faktor yang harus ada supaya akad menjadi sah atau lengkap adalah syarat. Syarat adalah sesuatu yang keberadaannya melengkapi rukun (sufficient condition). Contohnya adalah bahwa pelaku transaksi haruslah orang yang cakap hukum (mukallaf). Bila rukun sudah terpenuhi tetapi syarat tidak dipenuhi, maka rukun menjadi tidak lengkap sehingga transaksi tersebut menjadi fasid (rusak). Demikian menurut Mazhab Hanafi.

Syarat bukanlah rukun, jadi tidak boleh dicampuradukkan. Di lain pihak, keberadaan syarat tidak boleh: (a) Menghalalkan yang haram; (b) Mengharamkan yang halal; (c) Menggugurkan rukun; (d) Bertentangan dengan rukun; atau (e) Mencegah berlakunya rukun.

#2 Ta’alluq. | Ta’alluq terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan, di maka berlakunya akad 1 tergantung pada akad 2. Contoh: misalkan A menjual barang X seharga Rp 120 juta secara cicilan kepada B, dengan syarat bahwa B harus kembali menjual barang X tersebut kepada A secara tunai seharga Rp 100 juta.

#3 “Two in one”. | Two in one atau 2 JUAL BELI DALAM 1 JUAL BELI adalah kondisi di mana suatu transaksi Jual Beli diwadahi oleh dua akad Jual Beli sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian (gharar) mengenai akad mana yang harus digunakan/berlaku. Dalam terminologi fikih, kejadian ini disebut dengan bay’atayni fii bay’ah atau sebagian ulama menyebut shafqatain fi al-shafqah. | Two in one terjadi bila semua dari ketiga faktor ini terpenuhi: objek sama; pelaku sama; dan jangka waktu sama.

Gambaran umum mengenai transaksi yang dilarang Syariah tersebut, akan memudahkan bagi pelaku bisnis termasuk yang menggeluti bidang Syariah Marketing agar bisa melakukan identifikasi apakah produk yang dijual masih mengandung unsur yang dilarang atau tidak.

Meskipun sudah ada Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengenai berbagai Produk Keuangan Syariah, tak salah bagi kita untuk mencermati dan melakukan uji kredibilitas terhadap produk berlabel Syariah.

Fatwa, sejatinya adalah jawaban atas pertanyaan, dan pertanyaan biasanya muncul jika masih ada ketidakjelasan dan/atau perbedaan pendapat. Fatwa atas perbedaan pendapat ini lazimnya memberikan solusi dengan gradasi hukum dari yang paling utama sampai yang syubhat (ragu-ragu atau abu-abu) atau mendekati haram.

Dan ingat bahwa ada kaidah untuk meninggalkan yang syubhat (ragu-ragu). Tinggal publik pilih yang mana. Perhatikan bahwa publik sudah sangat pintar. Dan sistem Syariah ini sebenarnya bisa dianalisis secara mudah oleh orang awam sekalipun. | Tapi akan tidak LOGIS kalau meninggalkan yang meragukan dengan MEMILIH YANG MURNI HARAM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s