Tasawuf Ekonomi

TASAWUF EKONOMI
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Bahasan Tasawuf Ekonomi mengarah pada bahasan tentang nafs alias nafsu alias nafsun alias jiwa dan juga qalb, aql, shadr, dan lain lainnya dalam urusan ekonomi (iqtishaad). Bahkan sampe ruuh? | Untuk mengenal Tuhan dan ajaran Tuhan (termasuk bidang EKONOMI), maka butuh proses dari Syariah ke Thariqah ke Haqiqah ke Ma’rifah. Ini bahasan tentang Tasawuf. Dari Syariah ke Ma’rifah. Syariat ke Ma’rifat.

Dan semua lini tasawuf ini tidak bisa saling menafikan. Tidak bisa slaing meniadakan. Harus serasi.

Kita mafhum bahwa sejatinya hidup ini ya meliputi ketiganya (untuk tidak bilang keempatnya). Ketika Syariah belum beres maka akan sulit ketemu Thariqah yang sesungguhnya dan bahkan Haqiqah.

Syariah ialah ajaran, hukum, jalan, aturan. Dengan cakupan pemahaman atas ajaran hukum Islam dari gradasi Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh sampai Haram. Sumber ajarannya ya Alquran dan Hadits. Serta Fiqh yang merupakan penafsiran ulama atas Alquran dan Hadits

Berikutnya adalah Thariqah yang bisa dilalui jika sudah mengerti, memahami dan mempraktikkan syariah. Dan memahami Syariah memang bukanlah hal sederhana. Kalau ilmu yang harus dipelajari ya ilmu fiqh dari fiqh bersuci sampai fiqh setelah mati. Sebelumnya ada “ilmu alat”-nya kan.

Selanjutnya, Thariqah fokus ke JALAN. Jalan dan cara menjadi pribadi muttaqin.. bertaqwa.. dengan sangat memelihara dan menjaga hal hal yang wajib dan membiasakan diri dengan hal hal sunnah dan menjadikan yang mubah menjadi ladang pahala. Tentu yang makruh ditinggalkan. Apatah lagi yang haram.

Selanjutnya, Haqiqah, adalah sesuatu yang haqq. Haqq dalam definisi bahasa bermakna kesenyataan.. hal yang memang seharusnya wajar terjadi yang adalah merupakan kebenaran. Bahkan haqq ini bisa identik dengan sunnatuLlah alias ketentuan Allah yang tidak bisa dielak. Ia lebih esensial. Lebih substantif.

Namun haqiqah ini selayaknya gak boleh menyimpang dari Syariah dan Haqiqah. Ini dari sisi pemahaman awam saya. Meskipun sesekali ada pemaknaan bahwa esensi atau isi lebih penting daripada bungkusnya, namun saya berpemahaman bahwa esensi yang benar akan hadir jika dan hanya jika melalui syariah dan thariqah yang benar.

Haqiqah akan dominan terwujud berdasar nilai nilai luhur.. etika.. estetika khas sifat ilahiyah dan juga sisi luhur sifat insaniyah.

Haqiqah akan memancarkan nilai esensial ketuhanan dan kemanusian. Kasih. Sayang. Damai. Ikhlas. Sabar. Syukur. Qanaah. Zuhud. Roja’. Khawf. Dan hal hal baik nan luhur lainnya. Tentu ketika syariah dan thariqah (jalan) sudah tuntas.

Selanjutnya adalah ma’rifat. Ma’rifah atau ma’rifat ini berasal dari kata kenal. ‘Arafa. Ta’arruf.

Ini didefinisikan kita dalam posisi mengenal Tuhan. Mengenal sesembahan yang layak disembah. Laa ilaaha illaLlaah. Ilah adalah sesembahan. Dan tentu posisi ma’rifat ini kita akan mengenal Allah gak hanya sebagai Sesembahan atau Al Ilaah. Al + Ilaah = Allah. Gak hanya itu kan posisi Tuhan. Tuhan pun berposisi sebagai Rabb (sang pemelihara dan pendidik), juga sebagai Maharaja Manusia (malikinnaas). Dan cermati juga asma`ul husnaa. Kita bisa berguru darinya.

Menarik kembali mencermati Hadits “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbah”. Barang siapa yang ‘arafa alias mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.

Entah ini peluang bagi kita untuk kemungkinan berma’rifat atau kondisi perintah kepada kita untuk mencerna segala fenomena yang ada dalam diri untuk mensyukuri apa yang ada sehingga kita bisa memahami hakikat diri dan semakin beriman kepada Tuhan. Sang al Ilaah alias Allah.

Demikian. | waLlaahu a’lamu bishshowaab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s