Tidak Sesuai Syariah = Haram?

TIDAK SESUAI SYARIAH = HARAM?
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Sebagai bahan pemahaman atas kriteria hukum dan judgement hukum, berikut ini ada komentar mengenai isu “Fatwa Haram” BPJS pada akhir Juli 2015, saya akan membahas mengenai apakah TIDAK SESUAI SYARIAH = HARAM? Berikut dialognya:

[08:54, 7/31/2015] YM: Pak Ifham, ketika saya share ke group yang lain ada komen nih dari Ketua Dewan Syariah. “Tulisan di atas berbahaya menurut saya: sekarang dibalikin saja: siapa orang MUI yang membantah kalau BPJS yang ada sekarang tidak riba, judi dan gharar? Ada gak? Tidak ada. Karena sudah clear hukumnya haram.”

[08:55, 7/31/2015] Ahmad Ifham: Hukum BPJS clear tidak sesuai syariah. Betul. | BPJS sekarang clear ada riba, gharar, maisir. Ini betul.

[08:58, 7/31/2015] AA: berarti haram dong ya. hehe saya tidak mengerti.

[09:04, 7/31/2015] Ahmad Ifham: Apakah bahasa Arabnya Tidak Sesuai Syariah? Coba kira-kira kalau MUI berfatwa menggunakan bahasa Arab, bagaimana kalimatnya? | Hurrimat? Laa halaala? Laa yajuuzu? Nahaa? Laa taqrabuu? Ijtanibuu? Laa? | Yang mana? Bisa dicermati satu persatu. Beda bahasa akan beda makna dan tentu akan beda risiko.

[09:07, 7/31/2015] Ahmad Ifham: Beberapa kata bahasa arab itu sering muncul di ayat-ayat Alquran maupun hadis untuk JENIS TRANSAKSI TERLARANG. Yang TERNYATA nih JIKA diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi DIHARAMKAN, ini tidak tepat. | Nah di sini yang saya merasa ada gap antara Bahaasa Indonesia dengan Bahasa Arab.

[09:09, 7/31/2015] Ahmad Ifham: Nah, kata “Tidak Sesuai Syariah” itu bisa muncul berbagai kemungkinan: Hurrimat: diharamkan; Laa halaala: tidak halal; Laa yajuuzu: tidak boleh; Nahaa: cegahlah (untuk); Laa taqrabuu: jangan dekati; ijtanibuu: maka jauhilah; laa: jangan (lakukan/menjadi). | Beberapa kemungkinan itu kan masuk kategori TIDAK SESUAI SYARIAH.

Nah.. Coba pilih laa halaala (kagak halal): di sini akan muncul peluang hukum syubhat atau makruh alias remang-remang. tidak hanya haraamun (haram). | Seperti Hadis yang tercantum dalam Kitab Arba’in Nawawi bahwa halal itu jelas, haram itu jelas, dan di antara keduanya adalah syubhat. Berarti kalau disebut tidak halal itu ternyata tidak hanya haram, namun ada kemungkinan syubhat.

PERHATIKAN CONTOH kriteria pelarangan transaksi dan/atau aktivitas berikut ini: Zina itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Perintahnya adalah JANGAN DEKATI.| Makan daging anjing itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Perintahnya adalah JANGAN. | Riba adalah HARAM. Jelas kalimat perintahnya. | Makan bangkai itu HARAM. Jelas kalimat perintahnya. | Jual Beli Gharar itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Perintahnya adalah CEGAHLAH. | Melakukan 2 Jual Beli dalam 1 Jual Beli itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Perintahnya adalah CEGAHLAH. | Maisir itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Ayat Alquran-nya  Maisir itu NAJIS dan merupakan PERBUATAN SYETAN. | Memakan harta anak yatim itu tidak haram, tapi Tidak Sesuai Syariah. Perintahnya adalah JANGAN. | Makan daging babi itu HARAM. Jelas kalimat perintahnya.

Ini dari isu tata bahasa PELARANGAN: Haram atau Tidak Sesuai Syariah. Jadi harus dicermati dengan sangat hati-hati. | Kalau terkait DARURAT dan atau LIL HAJAH [yang merupakan kaidah kebolehan melakukan hal terlarang termasuk haram], nanti bisa lebih panjang lagi pembahasannya.

Nah terkait dengan apapun, kalau sedang dalam kondisi darurat dan lil hajah ya jangan terus KEENAKAN tidak ada upaya. Itu namanya membiarkan kezhaliman. Jadinya ya zhalim juga. | Wallaahu a’lamu bishshowaab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s