Time Value of Money VS Economic Value of Time

TIME VALUE OF MONEY VS ECONOMIC VALUE OF TIME
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

TANYA

Pertanyaan dari ILBS24: Ustadz, mau tanya nih tentang hukum konsep nilai waktu dari uang (time value of money), dalam ekonomi islam gak mengenal ya? Saya masih belum jelas, disisi lain kan ada inflasi yang memang nyata, mohon penjelasannya. Terimakasih..

JAWAB

Dalam Islam, terkait dengan Ekonomi dan Keuangan, maka WAKTU-lah yang sangat berharga. Sehingga muncullah konsep Economic Value of Time.

Kita mengenal Time Value of Money terdasar pada konsep Presence of Inflation dan Preference Presence Consumption to Future Consumption. | Katakanlah Inflasi Nihil, atau bahkan Deflasi, tetap saja tidak terjadi Negatif Time Value of Money. Perangkat dan folosofinya juga punya sudut pandang esensi yang pokoknya Uang diam itu beranakpinak.

Beda dengan Ekonomi Islam yang menganggap bahwa Waktu-lah yang bernilai Ekonomi. | wal ‘ashr – innal insaana la fii khusr – illaa alladziina aamanuu wa ‘amiluu ash shaalihaati wa tawaashow bi al haqqi wa tawaashow bi ash shobri.

Ungkapan bijak sejarah Islam juga bilang bahwa al waqtu kas sayf | waktu itu ibarat pedang.

Nah.. Jika pada praktiknya Time Value of Money MEMASTIKAN DISCOUNT RATE, maka beda dengan Economic Value of Time (EVT) yang akan disesuaikan dengan kaidah kaidah Fikih Logis. | Karena ini adalah urusan MUAMALAH.

Perhitungan-perhitungan matematis dari Time Value of Money (TVM) ini masih tetap bisa dipergunakan asalkan penerapannya logis. Disesuaikan dengan logika fikih dan fikih logika akad.

Jika TVM mark up harga dengan minta discount rate atau MEMASTIKAN return dengan Suku Bunga Pinjaman sebesar Bunga X% dari Pokok Pinjaman apapun yang terjadi (berdasar folosofi Uang diam itu beranakpinak), maka berbeda dengan LOGIKA akhir dari EVT yang akan disesuaikan dengan logika fikih dan fikih logika akad.

Unsur unsur perhitungan bisa jadi mirip, mark up harga sama-sama ada (TVM berdasarkan Nilai Waktu dari Uang, EVT berdasarkan Nilai Ekonomi dari Waktu), namun filosofi dan risk-nya jelas beda. | Dalam TVM,  ketidakpastian return dikonversi menjadi suatu kepastian melalui premium for uncertainty. Dalam EVT, tergantung LOGIKA akadnya.

JIKA akadnya berbasis Natural Uncertainty Contract (NUC) alias Syirkah (kongsi atau bisnis atau partnership motif profit), maka perhitungan mark up RETURN alias penggunaan DISCOUNT RATE hanya boleh sekedar PROYEKSI dan HARUS mendasarkan HASIL pada 3 kemungkinan alias PROBABILITY yakni Positive Return, Negative Return dan No Return.

Terkait dengan NUC, jelas beda dengan filosofi TVM yang secara matematis dan logis, dalam berbisnis TIDAK MENGENAL RISIKO TIDAK POSITIVE RETURN. Kondisi inilah yang ditolak dalam EVT karena ada al ghunmu bi laa ghurmi (gaining return without responsible for any risk), dan al kharaj bi laa dhaman (gaining income without responsible for any expenses). Pengen seenaknya sendiri kann.. Bukankah return goes along with risk?

JIKA akadnya berbasis Natural Certainty Contract (NCC) yakni transaksi pertukaran alias transaksi berbasis Jual Beli (barang, manfaat, jasa), penggunaan DISCOUNT RATE boleh digunakan untuk MEMASTIKAN (sekali lagi MEMASTIKAN) harga mu`ajjal (jual beli dengan pembayaran tangguh). | Hal ini dibenarkan karena (1) Jual Beli barang dan Jual Beli Jasa dan Jual Beli Manfaat adalah transaksi yang termasuk dalam sektor riil yang menimbulkan Economic Value Added; (2) Tertahannya HAK si Penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan kewajibannya (menyerahkan barang atau jasa atau manfaat), sehingga ia tidak bisa mrlaksanakan kewajibannya kepada pihak lain.

Di sisi ini mungkin saja ada Ahli Fikih beda pendapat, terutama bagi yang lebih sepakat bahwa mau diangsur sebulan atau setahun ya harganya sama. | Namun saya pribadi belum menemukan LARANGAN jika ada harga beda dalam beda Jual Beli, karena HANYA ADA 1 harga dalam 1 jual beli jenis ini.

Terkait dengan transaksi NCC ini, TVM juga tidak bakal berani ikut LOGIKA fikih dan fikih logika ambil profit, karena TIDAK MENGENAL JUAL BELI. | Dinisbatkan Jual Beli, maka TVM akan MENIDAKPASTIKAN HARGA dalam Jual Beli, padahal sudah deal. TVM akan menentukan harga atau nominal yang harus dikeluarkan ya lihat nanti tergantung suku bunga. Ini sudah gak masuk logika EVT sisi NCC. Gak masuk dalam logika Jual Beli.

Nah, demikian sedikit uraian antara Time Value of Money VS Economic Value of Time. | Sumber bacaan: BUKU PINTAR EKONOMI SYARIAH (Gramedia Pustaka Utama – 2010) halaman 49, 182, 183, 257, 849, 850, 851, 863, 864, penulis: Ahmad Ifham Sholihin. Tebal: 947 + viii halaman. Edisi Revisi segera diterbitkan oleh: Risalah al Ifham dengan judul BUKU PINTAR EKONOMI ISLAM. | WaLlaahu a’lamu bishshowaab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s